Simak 5 Hal Berikut dalam Menentukan Key Opinion Leader

Perkembangan dunia maya khususnya sosial media saat ini memberikan nuansa baru bagi penggunanya. Sosial media yang dulu hanya digunakan untuk berinteraksi dengan teman lama atau keluarga yang jauh, kini telah berubah menjadi sebuah wadah untuk menunjukan eksistensi diri. Banyak pengguna yang kemudian secara profesional menunjukan ketertarikan dan keahliannya di bidang tertentu yang mereka suka, mulai dari travel, olahraga, musik, kecantikan, tech, hingga ekonomi dan bisnis. Orang-orang tersebut kemudian dipercaya menjadi acuan bagi pengikutnya dalam menentukan keputusan terhadap sebuah brand atau yang dikenal dengan sebutan key opnion leader (KOL). Para KOL ini kemudian banyak digunakan oleh brand dan perusahaan untuk menggiring opini masyarakat dalam mencapai image tertentu.

Mereka yang disebut sebagai KOL ini terbagi menjadi macro dan micro berdasarkan jumlah pengikutnya. Namun, besarnya jumlah pengikut tersebut tidak dapat dijadikan ukuran profesionalisme dari KOL. Oleh karena itu, penting untuk terlebih dulu mengetahui profesionalisme seorang KOL dari karakteristik dan track record-nya agar memudahkan proses penyampaian pesan dan mencapai tujuan. Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan dalam menentukan KOL? Simak berikut ini.

 

1. Responsif dan kooperatif

Ini adalah hal paling dasar dalam menentukan KOL karena jika KOL tersebut tidak responsif atau slow response maka akan memperlambat proses campaign. Selain responsif, KOL yang kooperatif juga lebih mudah diarahkan dan tepat waktu sehingga konten informasi dapat dengan cepat dibagikan.

 

2. Memerhatikan detail

KOL yang baik memerhatikan setiap detail yang diberikan. Mulai dari penulisan dan penyebutan nama brand yang benar, tagar yang dicantumkan, memahami campaign yang dijalankan sehingga dapat membantu pihak brand menjawab pertanyaan dari pengikutnya terkait brand atau campaign yang dijalankan.

 

3. On brief

Banyak KOL yang mengabaikan panduan/brief yang diberikan pihak brand. Sehingga tidak jarang KOL masih menanyakan hal yang sudah dijelaskan dalam brief. Seperti panduan membuat konten, tanggal unggah konten, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama masa kerja sama. Padahal jika KOL mengikuti brief yang ada maka akan mempermudah pekerjaan mereka.

 

4. Kreatif

Dapat mengembangkan brief yang diberikan sesuai dengan gaya masing-masing merupakan contoh KOL yang kreatif. Bukan hanya itu, ketika bahan konten yang diberikan terbatas maka KOL yang kreatif dapat mencari cara untuk menutupi kekurangan konten.

 

5. Worth the price

Sebagian brand tidak mempersoalkan harus membayar mahal KOL demi kesuksesan campaign. Namun KOL yang profesional tentu saja akan memenuhi ekspektasi klien dari “nilai” yang sudah dikeluarkan. Engagement yang tinggi menjadi salah satu ekspektasi brand terhadap KOL. Selain itu, ke-empat hal yang sudah disebutkan sebelumnya juga menjadi indikator seorang KOL worth the price.

 

Comments (0)

Leave a Comments