Gaji Besar, Hidup Bahagia? Menimbang Arti Sukses di Dunia Kerja Modern

Written by Geeriza Vittoria Telaumbanua

Belum lama ini, saya pergi ke bioskop untuk menonton salah satu film Indonesia yang cukup memantik perhatian saya, Tunggu Aku Sukses Nanti, karya sutradara Naya Anindita. Selama hampir dua jam menonton, otak saya terus memroses alur cerita dan rasanya emosi ikut terkuras. Saya, yang baru menjajaki dunia kerja kian bertanya, “memang uang gak selamanya bikin seneng ya? kayaknya selama ada uang bakal seneng-seneng aja.” Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah realitas dunia kerja saat ini, rasanya jadi semakin relevan untuk dicari jawabannya.

Di era sekarang, dunia profesional terasa seperti arena kejar-kejaran tanpa garis finish yang jelas. Banyak orang berlomba mencapai jenjang karir secepat mungkin, yang pada akhirnya membentuk budaya hustle, terutama di kota-kota besar. Kehadiran media sosial pun memperkuat tekanan tersebut. Kita terus terpapar pada pencapaian orang lain, yang tanpa sadar membentuk standar baru tentang “sukses”.

Akibatnya, tidak sedikit yang rela mengorbankan waktu, kesehatan, bahkan kebahagiaan demi mengejar target finansial atau status tertentu. Tentu ini balik ke pribadi masing-masing. Setiap orang bebas menentukan cara kerja serta target karir nya. Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah uang yang banyak benar-benar menjamin kebahagiaan?

Untuk menjawabnya, saya mencoba melihat dari beberapa perspektif ilmiah. Dalam teori hierarki kebutuhan, Abraham Maslow menjelaskan bahwa uang dan harta memang berperan dalam memenuhi kebutuhan dasar dan rasa aman. Namun ketika berbicara tentang kebahagiaan, dua hal tersebut tidaklah cukup. Manusia juga membutuhkan rasa memiliki (belonging), penghargaan (esteem), dan aktualisasi diri (self-actualization). Hal ini juga diperkuat oleh penelitian dari Daniel Kahneman, yang menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan memang dapat meningkatkan kebahagiaan, tetapi hanya sampai titik tertentu. Setelah itu, faktor lain seperti kualitas hubungan sosial, makna pekerjaan, dan keseimbangan hidup justru menjadi lebih dominan. 

Selain itu, ada pula konsep hedonic treadmill, yang menjelaskan kecenderungan manusia untuk cepat beradaptasi terhadap peningkatan kondisi hidup, termasuk pendapatan. Ketika gaji naik, standar hidup ikut meningkat. Pada akhirnya, tingkat kebahagiaan kita kembali ke titik awal. Itulah mengapa sering muncul perasaan “tidak pernah cukup”.

Dari berbagai perspektif ini, terlihat bahwa uang memang penting (bahkan sangat penting) untuk memberikan rasa aman dan membuka akses terhadap berbagai pilihan hidup. Namun, uang tidak selalu mampu menggantikan hal-hal yang lebih esensial, misalnya rasa dihargai, hubungan yang bermakna, lingkungan kerja yang sehat, hingga perasaan berkembang sebagai individu. Jika seseorang terus bekerja di bawah tekanan, tidak memiliki ruang untuk bertumbuh, tidak merasa didengar, atau berada dalam lingkungan yang tidak suportif, maka sebesar apa pun kompensasi yang diterima, tetap sulit untuk mencapai kebahagiaan yang utuh.

Dalam konteks pekerjaan, termasuk sebagai seorang praktisi PR, menurut saya kesuksesan seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah klien yang ditangani atau besarnya pendapatan yang dihasilkan. Lebih dari itu, kesuksesan juga tercermin dari bagaimana individu dalam tim merasa berkembang, memiliki makna dalam pekerjaannya, dan tetap memiliki ruang untuk hidup di luar pekerjaan.

Pada akhirnya, uang memang dapat memberikan kenyamanan dan kebahagiaan (siapa sih yang gak mau uang? :D), tapi jangan sampai kita lupa dengan hal-hal yang lebih “samar” untuk membuat diri sendiri bahagia. Jangan lupa untuk terus bertanya dan berefleksi: “apakah pekerjaan ini memberi makna?”, apakah saya berkembang?”, dan “apakah saya punya waktu untuk hidup?”