• Home
  • Current: Stories

Tak Melulu Buruk, Tiga Hal Ini Siratkan Makna di Balik Pandemi

03 Sep 2020 | STORIES | 0 Comment
Title News

Ilustrasi foto oleh Denys Nevozhai

Pandemi Covid-19 yang tersebar di hampir seluruh negara di dunia sempat melumpuhkan roda perekonomian global. Mulai dari membatasi pergerakan hingga mengubah tatanan kehidupan masyarakat, kehadirannya lekat dengan stigma negatif atau sebagai peristiwa yang menggelisahkan. Meski menghadirkan tantangan yang belum pernah dialami sebelumnya, saya percaya bahwa every cloud has a silver lining, tak terkecuali pandemi ini.

Ketika melihat lebih dekat, saya menyadari hal-hal yang tadinya biasa saja menjadi istimewa, bahkan yang awalnya menyulitkan kini saya syukuri. Bagaimana bisa?

 

1. Leluasa atur waktu ‘tambahan’   

Bagi saya yang merupakan kaum suburban, mobilitas tinggi tak bisa terhindarkan. Pemberlakuan kebijakan social distancing dan work from home (WFH) membuat saya memiliki ‘lebih banyak’ waktu yang biasanya habis di perjalanan. Nyatanya, pandemi memberikan waktu ‘tambahan’ yang mengizinkan individu untuk melakukan hal yang disukai, terlebih bagi pekerja seperti saya.

Ilustrasi foto oleh Carl HeyerdahlIlustrasi foto oleh Carl Heyerdahl

Kata orang, waktu adalah uang. Layaknya uang, waktu adalah aset setiap individu yang dapat digunakan untuk mewujudkan keinginannya. Oleh karena itu, saya sedang belajar untuk tidak menghabiskannya begitu saja. Menonton video edukatif, mendengarkan podcast penuh insight, dan membaca buku menjadi pilihan untuk membuat waktu saya lebih bermanfaat tatkala #dirumahaja.

2. Berkesempatan tingkatkan kedekatan dengan keluarga

Berada di rumah sewajarnya meningkatkan intensitas kebersamaan dengan keluarga. Di hari kerja, saya yang biasanya hanya bertemu keluarga saat hendak berangkat dan ketika pulang kerja kini dapat bersua dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Momen-momen yang rasanya tidak mungkin terjadi di hari biasa rupanya terlaksana di masa pandemi. Misalnya, makan siang bersama, ngopi sore, hingga berbincang dan berdiskusi tentang apapun. Kesempatan ini secara otomatis menambah kedekatan keluarga kami. 

Ilustrasi foto oleh Anastasiia ChepinskaIlustrasi foto oleh Anastasiia Chepinska

Saat bekerja di rumah, ada beberapa individu yang merasa kesulitan dan menemui gangguan ‘tambahan’. Sebaliknya, saya malah mendapati diri saya semakin produktif karena dapat merasakan kehangatan keluarga dari dekat yang mampu meredam stres saat sedang menyelesaikan pekerjaan kantor, membuat saya memahami arti home sweet home yang sesungguhnya.

3. Banyak kerjaan, banyak rejeki

Bertolak belakang dengan imej pandemi di masyarakat, saya salah satu yang merasakan keberuntungan di tengah pandemi, dihujani pekerjaan dibarengi dengan pemasukan lancar. Sedari dulu, bekerja di agensi PR identik dengan pekerjaan segudang, ya memang.

Menjadi jembatan antara media dan klien, menyiapkan dan menjalankan strategi komunikasi, hingga memenuhi permintaan ketika tawaran pitching datang, terlebih semua dilakukan dengan cara berkecimpung di industri di mana klien atau calon klien beroperasi, jadi bagaimana mungkin tidak melimpah? Justru, saya melihat hal tersebut adalah the beauty of working at a PR agency

Tidak hanya kesempatan belajar, kesibukan tersebut lebih saya syukuri ketika di tengah pandemi banyak orang yang malah terpaksa harus ‘dirumahkan’. Tak dapat dipungkiri, masa pandemi mengharuskan klien untuk melakukan penyesuaian terhadap rencana dan alokasi budget. Akan tetapi, perlu diingat bahwa setiap perusahaan tetap perlu melakukan kegiatan komunikasi untuk menjaga eksistensi mereka, sehingga memungkinkan agensi PR untuk bertahan di tengah hiruk-pikuk dan ketidakpastian pandemi.

Fenomena yang menarik juga dirasakan oleh rekan media dan influencer. Saat ditelusuri, ternyata beberapa rekan media dan influencer mengaku mendapat banyak tawaran pekerjaan di era new normal saat ini, salah satunya Mas Dedy Irvan dari Jagat Review, “Ajaib ya, WFH berasa kerjaan makin padet.”

Ilustrasi foto oleh Emma Matthews

Ilustrasi foto oleh Emma Matthews

 

Setiap individu memiliki jalan hidup masing-masing dengan tantangan yang berbeda pula. Jikalau kita belajar untuk menafsirkan peristiwa yang dialami, tentu kita dapat menemukan hikmah yang terkandung dari segala kejadian serta membuatnya lebih bermakna.

Anggelin is a would-be artist with passions for art, music, and travel.
Comments
  • Rini Astiani
    | 03 Sep 2020

    Hebat...

Leave your comment