• Home
  • Current: Stories

Work Life Balance or Work Life Integrated?

28 Sep 2020 | STORIES | 0 Comment
Title News

Foto ilustrasi: Pexel.com

Wabah virus Corona yang merebak di kuartal pertama 2020 kini berkembang menjadi pandemi global di mana seperti yang kita tahu membawa perubahan. Pandemi ini mengharuskan masyarakat Indonesia melakukan semua aktifitas sehari-hari seperti sekolah, bekerja  hingga bisnis dilakukan dari rumah. Hal tersebut tentunya membawa perubahan yang signifikan terhadap kehidupan setiap individu. Biasanya berangkat ke kantor pada pagi hari, berinteraksi dengan banyak orang lalu pulang pada malam hari, semua itu kini harus dilakukan di rumah. 

 

Sebagian besar perusahaan di Indonesia kini telah menerapkan konsep bekerja dari rumah (Work From Home) sebagai bentuk pencegahan penyebaran Covid-19. Work From Home menjadi kenormalan baru di tahun 2020. Kenormalan baru ini membawa dampak masing-masing terhadap para karyawan. Salah satunya adalah Sisca, seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan asuransi telah melakukan Work From Home semenjak bulan Maret mengaku lebih berat dibanding Work From Office. Ibu dari satu anak ini kesulitan dalam menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi (Work - Life Balance) selama pandemi. 

 

“Sulit sekali rasanya membagi waktu untuk mengurus anak dan juga bekerja di rumah. Di waktu yang sama, anak saya harus mengikuti sekolah online dan harus didampingi sementara saya harus mengikuti online meeting. Belum lagi kalau anak saya sedang rewel dan hanya mau dipegang oleh saya,” ujarnya.  Sisca pun menambahkan bahwa dirinya lebih memilih bekerja di kantor karena jadwal lebih teratur dan pekerjaan pun jadi lebih terorganisir. “Kalo WFH banyak anggapan waktu kita lebih banyak sehingga permintaan-permintaan pekerjaan pun banyak yang lewat dari jam kerja.” 

 

Senada dengan Cia, graphic designer di salah satu digital agency di Jakarta Selatan. Cia mengaku harus bekerja lebih dari 10 jam setiap harinya termasuk di akhir pekan. “Tidak bisa dipungkiri bahwa ada saja permintaan pekerjaan yang sampai larut malam. Dulu lembur maksimal hanya 2 hingga 3 kali seminggu. Saya sekarang bisa senin - jumat bahkan weekend lembur terus,” tambahnya. Hal ini menyebabkan dirinya tidak bisa berolahraga secara rutin dan melakukan hobby. “Di saat ada waktu luang selalu saya sempatkan untuk istirahat karena badan rasanya selalu lelah,” tambahnya. 

 

Fenomena tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti di Jepang. Dilansir dari halaman Kompas.com, studi dari Keio University di Tokyo secara online pada 26-28 Maret 2020 dan melibatkan 8.475 karyawan, termasuk pekerja tidak tetap, dengan rentang usia 20 hingga 64 tahun. Hasil studi tersebut menyatakan bahwa Work From Home memperburuk kondisi mental mereka di mana 41,3% di antaranya mengaku sulit untuk memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka. Sedangkan 39,9% lainnya mengatakan sulit mendapatkan waktu untuk cukup berolahraga dan 39,7% mengatakan mereka mengalami kesulitan berkomunikasi dengan rekan kerja.

 

Perlu diingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik khususnya di masa sulit seperti ini. Berikut tips dan trik sederhana yang dapat kamu coba selama Working From Home agar tetap fresh dan tidak stress. Yuk, simak!

 

Struktur rutinitas yang teratur menjadi salah satu kunci dalam memperoleh work-life balance. Cara terbaik dalam menciptakan rutinitas yang teratur adalah salah satunya dengan penetapan jam kerja. Kamu bisa menetapkan jam kerja kamu sesuai dengan kebijakan perusahaan lalu disiplin akan waktu tersebut. Apabila kamu menetapkan bekerja mulai dari jam 8 pagi hingga 6 sore maka di luar jam tersebut dapat dimanfaatkan untuk beristirahat, melakukan hobi dan hal lainnya. Struktur tersebut juga berfungsi untuk melatih otak dan tubuh kita bahwa terdapat perbedaan rutinitas antara kehidupan bekerja dan pribadi. 

 

2. Sempatkan istirahat 

Pernah mendengar istilah Work Hard, Play Hard? Istilah tersebut digunakan untuk memberikan reward kepada diri kita sendiri atas sejumlah waktu dan tenaga yang telah kita berikan untuk menyelesaikan pekerjaan. Luangkan waktu kamu paling tidak dua jam di luar dari jam kerja dan jam tidur untuk melakukan hal kesukaan kamu. Tidak harus beraktivitas, beristirahat dengan cara tidur atau sekedar rebahan pun dapat memberikan jeda dan time out untuk tubuh. Hal ini berfungsi ketika kamu ingin kembali melanjutkan pekerjaan, otak dan tubuh menjadi lebih fresh dan pekerjaan yang dilakukan menjadi lebih optimal. 

 

3. Diskusikan dengan team dan supervisor

Ketika kamu merasa sudah merasa kewalahan dan timbul kegelisahan tanpa sebab mungkin ini saatnya kamu berdiskusi dengan rekan kerja dan supervisor. Gunakan diskusi tersebut untuk menyampaikan apa yang kamu kerjakan, apa yang kamu sukai dan tidak kamu sukai. Tidak hanya itu, kamu juga bisa brainstorming bersama mereka tentang apa yang dapat diperbaiki untuk dapat menjadi lebih baik lagi dalam menyelesaikan pekerjaan.  Diskusi ini bertujuan untuk mencari solusi bersama-sama agar pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik dan kesehatan mental karyawan pun tetap terjaga.

Written by: Nadya
Comments
Leave your comment