• Home
  • Current: Stories

Jarang Dibahas, Ini Fakta Tentang Acne-Shaming di Indonesia

14 Nov 2020 | STORIES | 0 Comment
Title News

Jerawat merupakan masalah yang paling ditakuti sebagian besar perempuan di Indonesia. Masalah jerawat memerlukan proses yang cukup panjang hingga membuat mereka mengalami acne-shaming. Acne-Shaming merupakan keadaan saat seseorang memberikan respon negatif baik secara verbal maupun nonverbal kepada seseorang yang memiliki jerawat. Parahnya, keadaan ini bahkan bisa memengaruhi kesehatan mental pejuang jerawat. Hal ini ditemukan dari riset yang dilakukan Himalaya Since 1930,  brand produk kesehatan dan perawatan diri terhadap 1.000 perempuan pejuang jerawat.

 

Berikut beberapa fakta riset yang ditemukan Himalaya.

 

1. Sebagian besar pejuang jerawat mengalami masalah jerawat sebelum usia 18 tahun

Survei yang dilakukan oleh Himalaya menunjukkan bahwa masalah jerawat sudah dialami oleh perempuan sejak usia muda. Sebanyak 80% pejuang jerawat menyatakan mereka mengalami masalah jerawat sebelum usia 18 tahun, dan 25% bahkan mengalaminya sebelum 15 tahun di mana 86% di antaranya mengalami masalah jerawat setiap bulan, dan 32% mengalaminya setiap minggu. Data ini menunjukkan bahwa jerawat menjadi permasalahan yang cukup mengganggu waktu pejuang jerawat.

 

2. Para pejuang jerawat juga mengalami berbagai bentuk acne-shaming

77% pejuang jerawat pernah mengalami acne-shaming dalam bentuk yang berbeda-beda. Sebanyak 58% pejuang jerawat menyatakan bahwa mereka pernah menerima komentar buruk langsung seperti diejek atau dicemooh di depan muka mereka, sementara 38% pejuang jerawat pernah mengalami acne-shaming dalam bentuk nonverbal seperti gestur, tatapan, dan ekspresi wajah yang menunjukkan rasa jijik. Tidak hanya itu, 20% pejuang jerawat juga menerima perlakuan tidak menyenangkan seperti dinyinyirin atau dibicarakan di belakang mereka.

 

3. Acne-shaming dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka

Fakta juga mengungkap orang-orang yang melakukan acne-shaming terhadap pejuang jerawat adalah orang-orang terdekat mereka, Hal ini terbukti dengan sebanyak 52% pejuang jerawat mengatakan bahwa mereka menerima acne-shaming dari teman sebaya mereka. Bahkan 23,3% pejuang jerawat menerima acne-shaming dari orang tua, dan 23,8% dari saudara atau keluarga terdekat mereka. Data tersebut menunjukkan masalah jerawat tidak hanya menyerang fisik tapi juga dapat menjadi beban bagi mental pejuang jerawat karena orang-orang terdekat yang seharusnya dapat menjadi support system mereka memberikan komentar negatif. 

 

4.Jerawat, acne-shaming, dan kesehatan mental

Akibat dari acne-shaming tersebut secara spesifik ternyata menjadikan sebanyak 73% pejuang jerawat merasa tidak percaya diri, 60% merasa kurang menarik, dan 52% merasa malu. Perasaan tersebut jika berlangsung secara terus menerus dalam waktu yang lama dapat berpengaruh pada kesehatan mental pejuang jerawat. Terbukti 20% pejuang jerawat mengatakan bahwa mereka frustasi, bahkan 13% mengalami depresi karena jerawatnya. 

Melihat dampak acne-shaming yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental pejuang jerawat, maka sudah seharusnya isu ini menjadi pembicaraan umum. Sehingga semakin banyak orang yang memiliki kesadaran dan dapat menyikapi masalah jerawat dengan lebih bijaksana. Maka dari itu, Himalaya sebagai brand produk kesehatan dan perawatan diri yang terkemuka akan terus menyuarakan isu jerawat dan kesehatan mental sebagai bentuk dukungan mereka terhadap para pejuang jerawat di seluruh Indonesia. 

 

The girl who learned so much through arts
Comments
Leave your comment