• Home
  • Current: Stories

Tren Sepeda: Ladang Cuan Bagi Para Spekulan

04 Dec 2020 | STORIES | 0 Comment
Title News

Pandemi COVID-19 telah mendorong banyak orang di perkotaan untuk menggunakan sepeda sebagai salah satu alternatif olahraga maupun cara melepas penat selama periode pembatasan sosial berskala besar. 

Merujuk pada data yang dihimpun Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) pada Juni lalu, jumlah pesepeda yang berlalu lintas di Jakarta meningkat hingga 1.000 persen. Tren ini kemudian dijadikan peluang oleh para spekulan untuk menggoreng harga guna mendulang cuan setinggi-tingginya. 

Dalam sebuah unggahan video media sosial seperti yang dikutip oleh Kompas.com, Baron Mertanegara, pendiri komunitas Brompton Owner Group Indonesia (BOGI) menyatakan harga beberapa jenis sepeda kini tidak wajar, “Ada yang menggoreng harga CHPT3 versi kolaborasi Brompton, di online shop dan sosmed, harganya sudah Rp 100 juta hingga Rp 250 juta, gelo bray.” 

Padahal menurut Baron, harga asli di negara asalnya, London hanya berkisar Rp 26 juta-Rp 28 juta. Praktik spekulan ini membuat resah masyarakat dan para pecinta sepeda. Pasalnya, hal tersebut akan membuat sepeda menjadi komoditi yang hanya dapat dimiliki golongan masyarakat tertentu. Pun membuat minat masyarakat terhadap sepeda turut luntur. 

Berbagai komunitas pesepeda seperti Baron mulai aktif mengedukasi dan mendorong masyarakat untuk lebih rasional ketika membeli sepeda, karena pada dasarnya manfaat bersepeda tidak hanya didapat dari jenis kereta angin tertentu. 

Alih-alih membeli Brompton, ada beberapa sepeda lipat dengan harga terjangkau yang tetap memberikan benefit kesehatan yang setara. 

 

1. United Trifold

Sumber: situs UnitedBike

Alternatif sepeda kedua jatuh pada merk sepeda asal Korea Selatan yang mengusung slogan “classic is the best”, bernama 3Sixty. Berdasarkan data berbagai sumber, wheelbase, jarak antara pusat roda depan dengan pusat roda belakang 3Sixty diketahui lebih panjang 1 cm dibandingkan Brompton. Keunggulan ini memberikan hasil lipatan yang lebih lurus dan memudahkan pengguna untuk mendorong. 

Berbeda dari sepeda-sepeda cetakan United, 3Sixty terbuat dari bahan chromoly, sejenis baja yang ringan dan kuat. Dikutip dari situs resminya, 3Sixty menjual sepeda lipatnya mulai dari Rp 7 juta hingga belasan juta rupiah.  

 

2. 3Sixty Bike

Sumber: situs 3Sixtykr

Alternatif sepeda kedua jatuh pada merk sepeda asal Korea Selatan yang mengusung slogan “classic is the best”, bernama 3Sixty. Berdasarkan data berbagai sumber, wheelbase, jarak antara pusat roda depan dengan pusat roda belakang 3Sixty diketahui lebih panjang 1 cm dibandingkan Brompton. Keunggulan ini memberikan hasil lipatan yang lebih lurus dan memudahkan pengguna untuk mendorong. 

Berbeda dari sepeda-sepeda cetakan United, 3Sixty terbuat dari bahan chromoly, sejenis baja yang ringan dan kuat. Dikutip dari situs resminya, 3Sixty menjual sepeda lipatnya mulai dari Rp 7 juta hingga belasan juta rupiah.  

 

3Element Pikes 

Sumber: situs Elementmtb

Terakhir, sepeda lipat Element Pikes rasanya tidak boleh luput dari perhitungan para pengguna yang mencari sepeda dengan harga terjangkau namun berkualitas tinggi. 

Dikenal sebagai kembar identik Brompton, Pikes memiliki tiga tahap lipatan namun berbobot lebih berat dengan selisih lebih kurang dua kilogram. 

Menggunakan bahan chromoly, Element Pikes memiliki bodi ramping dan nyaman untuk digunakan sebagai moda transportasi jarak dekat yang dapat dipadukan dengan penggunaan kendaraan umum seperti bus atau kereta. Dari segi harga, Pikes dibanderol mulai dari Rp 7 juta. 

 

Nah, itu dia beberapa alternatif sepeda lipat yang bisa dijadikan pertimbangan saat memilih sepeda. Tentu masih banyak label-label lainnya yang tidak ditulis di atas. Apa pun keputusannya, cari tahu terlebih dahulu seluk beluk sepedanya dan jangan terjebak pada impulsi sesaat. Selalu ingat apa yang menjadi dasar kita membeli sepeda tersebut, yaitu untuk menjaga kebugaran tubuh, meminimalisir risiko penyakit, meningkatkan kesehatan mental, atau sekedar melatih kekuatan. 

 

Sumber foto: Coen van de Broek, Usplash.com

Written by: Irene Subrata
Anak kemarin sore yang sedang belajar menulis.
Comments
Leave your comment