• Home
  • Current: Stories

Public Speaking Skill: Trik Anti Panik Saat Bicara di Depan Publik

23 Nov 2020 | STORIES | 0 Comment
Title News

Sumber foto: Polkadotpowerhouse.com

Siapa sih yang nggak pernah merasa deg-degan ketika ditunjuk oleh guru, dosen atau atasan untuk berbicara di hadapan semua orang dan menjadi pusat perhatian? Bahkan, Lucas (2001) menyampaikan bahwa orang yang mudah berbicara di segala situasi pun akan merasa gugup saat diminta untuk berbicara di depan umum. Sebagai praktisi PR yang sehari-hari berkomunikasi dengan berbagai lawan bicara, saya setuju dengan gagasan tersebut. Jadi, menurut Kirkwood and Melton (2002), apabila kalian juga merasa stres saat harus berbicara di depan publik, wajar kok!

Meski terkesan ‘menakutkan’, perlu diingat bahwa profesi apapun yang akan atau sedang kita geluti, tentu akan memerlukan kemampuan public speaking. Semakin tinggi karir seseorang, maka semakin meningkat pula kebutuhan untuk berbicara di publik. Hal tersebut juga diutarakan oleh Pertaub, Slater dan Baker (2001) yang membenarkan adanya tuntutan bagi para ahli untuk menyampaikan gagasan di berbagai pertemuan yang berkaitan dengan keahlian serta isu di masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Verderber, Sellnow dan Verderber (2011), public speaking merupakan salah satu bentuk komunikasi, di mana belajar untuk menjadi effective public speaker dapat membantu kita menjadi lebih efektif di berbagai jenis komunikasi lainnya.

Oleh karena itu, saya ingin membahas beberapa trik yang bisa dilakukan untuk menangkal kepanikan dan lebih terampil tatkala berbicara di publik. Sebelumnya, shout-out to Farhan (2017) untuk tulisannya dengan judul ‘Anxiety Level in Students of Public Speaking: Causes and Remedies’ yang menginspirasi saya dalam membuat artikel ini. Yuk, simak triknya!

 

1. Tak kenal, maka tak sayang

 Hal pertama yang harus diperhatikan adalah memahami cara untuk membuat target audience bersedia mendengarkan kita. Kata orang, tak kenal, maka tak sayang. Jika kita dapat memahami kepada siapa kita berbicara, maka akan lebih mudah bagi kita untuk memilih topik pembicaraan, menentukan gaya bicara, serta mengemas kegiatan public speaking yang sesuai dengan ketertarikan mereka. Hal tersebut akan membuat pembahasan kita menjadi relevan, menarik, dan bermanfaat bagi pendengar.

Jika sulit menentukan apa yang menarik bagi para pendengar, kita dapat terlebih dahulu bertanya pada diri sendiri atau orang terdekat yang memiliki karakteristik serupa dengan target audience yang akan kita hadapi. “Jika saya menjadi audience, apakah saya akan memperhatikannya?”

2. Jangan lupa pakai hati

Sebelum menyampaikan pesan kepada pendengar, pastikan kita memahami topik pembicaraan dan percaya bahwa gagasan tersebut penting untuk disampaikan kepada target audience. Keyakinan tersebut akan membantu kita untuk mengalihkan fokus, dari how to speak in public atau tertuju pada penonton, menjadi how to convey the message atau tertuju pada materi pembicaraan. Dengan melakukan hal tersebut, kita dapat mengurangi potensi nge-blank yang timbul akibat pengaruh dari penonton—Stt.. akan ada pembahasan lebih lanjut soal nge-blank di poin selanjutnya! 

Sebagaimana lukisan menggambarkan imajinasi pelukisnya atau lagu menyampaikan emosi penciptanya, public speaking juga mampu mengutarakan aspirasi pembicaranya. Ketika kita ingin membuat target audience mengerti pesan yang ingin kita sampaikan, maka gestur, intonasi, dan penyampaian kita akan memancarkan keinginan tersebut.

Sejalan dengan hal itu, Morgan (2008) menyatakan bahwa saat kita merasa passionate dan meresapi materi pembicaraan, maka kita akan merasa nyaman saat berbicara di depan umum dan mendorong target audience untuk melakukan hal yang sama; fokus pada materi dan tertarik untuk mengerti pesan yang kita sampaikan. 

3. Percaya diri menjadi kunci

 Sempat disinggung di poin sebelumnya, nge-blank sering kali menjadi masalah saat berbicara di depan publik, setuju nggak? Biasanya, nge-blank diakibatkan oleh rasa panik yang membuat kita kehilangan fokus. Pertaub, Slater dan Baker (2001) menemukan fakta bahwa kecemasan yang dialami individu berbanding lurus dengan feedback yang diterima dari target audience, sehingga berdampak pada kepercayaan diri individu yang tergambar saat mereka menyampaikan pesan di depan umum. Maka dari itu, kita perlu membangun kepercayaan diri ketika hendak berbicara di depan umum, bagaimana caranya?

Tidak hanya meyakini bahwa pesan yang disampaikan penting bagi target audience, cara paling ampuh untuk meningkatkan kepercayaan diri adalah berlatih—Bisa intip manfaat berlatih dalam konteks PR di artikel saya yang sebelumnya juga tho! Berdasarkan evaluasi studi yang dilakukan oleh Akin dan Kunzman (1974) perihal kecemasan berbicara di depan umum di kalangan siswa, para peserta lambat laun berhasil mengatasi ketakutan dan mengontrol kecemasan mereka dengan menghadapi situasi yang menimbulkan rasa cemas secara bertahap dan terus menerus. Oleh karena itu, para peserta yang berlatih sebelum berbicara di depan umum, cenderung lebih percaya diri dan mampu menyampaikan topik pembicaraan dengan baik.

Artinya, semakin banyak kita berlatih, tanpa kita sadari, kita menjadi semakin percaya diri saat berbicara di depan publik. Pada akhirnya, kita mampu mengatasi rasa panik yang merupakan penyebab utama dari nge-blank. Sehingga, kita dapat lebih baik dalam menyampaikan pesan dan mengemukakan pendapat.

 

Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menjauh dari rasa panik saat berbicara di depan publik, di mana poin-poin di atas adalah beberapa diantaranya yang dapat mulai kita terapkan, secara perlahan tapi pasti. Apapun cara yang bekerja untuk kita masing-masing, satu hal yang pasti, menghindar dan menutup diri bukanlah jawabannya.

Selain poin-poin di atas, apakah kalian memiliki trik anti panik lainnya? Boleh lho di-share!

***

Referensi:

Akin, C., & Kunzman, G. G. (2012). A group desensitization approach to public speaking anxiety. Canadian Journal of Counseling and Psychotherapy, 8(2), 106-111. 

Farhan, R. (2017). Anxiety Level in Students of Public Speaking: Causes and Remedies. Journal of Education and Educational Development, 4(1), 94-110.

Kirkwood, C. K., & Melton, S. T. (2002). Anxiety disorders. In J. T. Dipiro, R. L. Talbert, G. C. Yee, G. R. Matzke, B. G. Wells, L. M. Posey, Pharmacotherapy: A pathophysiologic approach (5th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Lucas, S.E. (2001). The art of public speaking. New York, NY: McGraw-Hill.

Morgan, N. (2008). How to become an authentic speaker. Harvard Business Review, 11(86), 115-119.

Pertaub, D. P., Slater, M., & Barker, C. (2002). An experiment on public speaking anxiety in response to three different types of virtual audience. Presence: Teleoperators and Virtual Environments, 11(1), 68-78.

Verderber, R. F. Verderber, K. S., & Sellnow, D. D. (2011). The challenge of effective speaking. Boston: Cengage Learning.

Anggelin is a would-be artist with passions for art, music, and travel.
Comments
Leave your comment